Semua anak Bapak-Ibu Prantiyo selalu membawa rosario ke mana pun mereka pergi. Rupanya ada cerita di balik kebiasaan tersebut, seperti dituturkan oleh Tante Tut (AM. Tuti Indrati), puteri kedua Bapak-Ibu Prantiyo berikut ini :
Ceritanya, waktu itu zaman agresi Belanda – doorstood. Kami sekeluarga tinggal di Solo dan mulai kehabisan beras. Maka, Bapak (Pakdhe Prantiyo) mengajak saya ke Delanggu, untuk mencari beras. Kami naik sepeda ke Delanggu. Saat akan kembali ke Solo, tiba-tiba kami dihentikan oleh tentara Belanda di jalan. Semua orang memang dihentikan untuk digeledah, termasuk kami.
Tentara itu menggeledah bawaan dan badan Bapak. Pas digeledah, si tentara menemukan rosario milik Bapak di kantung celana. Dia tanya, “Kamu Katolik, ya?” Bapak bilang, “Ya .. saya Katolik” Tentara Belanda itu langsung menyuruh kami pergi, “Ya .. boleh pergi!” Bapak cepat-cepat mendorong sepeda dan mengajak saya, “Ayo, cepet In .. kita pulang!”
Menurut Bapak, rosario-lah yang menyelamatkan kami saat itu. Maka, sejak itu saya membawa rosario ke mana pun saya pergi.

1 comment
Comments feed for this article
November 26, 2007 at 3:54 am
Petrus Suratno
tradisi yang baik, saya juga menyarankan kpd istri saya untuk jangan lupa selalu bawa rosario, dalam kondisi apapun yakinlah Gusti Yesus dan Sang Dewi Maria selalu paring berkah.