(Bagian ketiga dari penuturan FX. Priyanto)
Tahun 1953, Bapak sekeluarga pindah dari Solo ke Jogja. Soalnya, Bapak harus mengajar di SGB Negeri Dongkelan dan Jetis. Kami tinggal di Minggiran, Jogja. Itu adalah rumah kuno kagungannya mBah Mertopengarso.
Waktu itu Gereja Pugeran masih menggunakan booglamp yang nyalanya merah dan tidak begitu terang. Bapak rerasan dengan para pimpinan gereja. Lalu setiap ada misa, saya dan Dik Tut bertugas mengedarkan besek untuk kolekte neonisasi gereja. Kami dibantu putrinya Pak Giarto. Usaha ini juga dibantu dengan mengadakan penjualan kupon sumbangan berhadiah. Akhirnya neonisasi gereja berhasil.
Kebetulan, setelah itu kami pindah ke Wates, Kulon Progo. Sebab, Bapak diangkat menjadi Kepala SGB Negeri Wates. Di Wates, Bapak mengusahakan neonisasi Gereja Wates. Latihan koor selalu diadakan di rumah kami. Romo Brotowidjaya yang rumahnya di Pengasih, katanya, juga sering ikut latihan di rumah kami, di wetan pasar.
Tahun 1957, Bapak, Ibu, adik-adik, Yu Mah dan Kiyah pindah ke Kuala Kapuas, Kalimantan. Soalnya, Bapak harus membuka sekolah SGA di sana. Waktu itu, di Kuala Kapuas baru ada kapel. Jika romo dari Banjarmasin tidak datang, kami sekeluarga diikuti tiga atau empat umat Katolik di Kuala Kapuas berdoa bersama dipimpin Bapak. Ibadat ini dikenal dengan nama ibadat sabda.
Tahun 1960, Bapak pindah ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Bapak menjabat sebagai Kepala Kanwil Depdikbud yang pertama di sana. Palangkaraya samasekali belum punya gereja, meski di sana banyak pekerja bangunan dari Flores yang mayoritas beragama Katolik. Maka, Bapak dibantu para pekerja lantas membangun gereja. Lahannya adalah tanah hadiah dari Gubernur Tjilik Riwut. Tanah itu masih berupa hutan rimba belantara yang harus dibabat dan dibersihkan. Untung kayu tidak perlu dibeli, tinggal ditebang saja. Konon, katedral yang sekarang didirikan di atas gereja lama tersebut, namun ada beberapa tiang yang tidak diganti sebagai kenangan. Puji Tuhan!
Di Demangan, Bapak berusaha membantu menghidupkan pertemuan pendalaman iman yang diberi nama Purnaman. Lalu, bersama Bapak HJ Sumarto, menghidupkan pendalaman iman seminggu sekali di rumah Perkutut.

No comments yet
Comments feed for this article