(Bagian keempat dari penuturan FX. Priyanto)

Bapak tidak hanya berjuang untuk gereja saja, melainkan juga untuk negara.

Pada tahun 1948, semasa clash II, Belanda kembali menduduki Solo. Bahkan, siswa SMP murid Bapak, banyak yang menjadi gerilyawan melawan Belanda. Di Solo, kami tinggal di rumah Bah Bagus. Dulu namanya Jalan Tumenggungan, di Kulon Soos Mangkunegaran. Nampaknya sekarang menjadi Museum PWI. Setelah gelap, Soos ini dikawal KNIL. Tapi, jika ada gerilyawan menyerang Soos dan lewat rumah, mereka memanggil, “Pak Praaaan…”. Mendengar itu, kami jadi takut, sebab kalau ada yang tidak suka sama Bapak dan dilaporkan ke Belanda, pasti Bapak ditangkap. Alasannya berteman dengan gerilyawan, atau disebut extrimist oleh Belanda.

Suatu saat Bapak menghilang. Kata Ibu, Bapak pergi ke Wedi, rumah simbah di Setono. Tapi, ternyata kepergian ini memang dirahasiakan oleh Ibu. Soalnya, kalau ketahuan Belanda, Ibu dan kami bisa ditangkap Belanda dan ditahan sampai Bapak menyerahkan diri. Beberapa bulan kemudian, diam-diam Bapak sudah sampai lagi di rumah bersama teman-teman. Bapak bawa oleh-oleh dalam keranjang yang ditutup kain. Waktu dibuka, Ibu menjerit karena ternyata isinya adalah tengkorak manusia yang sangat besar ukurannya. Beberapa hari kemudian, Bapak mengantar tengkorak itu ke SMP Kaniusius Kusumoyudan, Solo.

Nah, ternyata Bapak menghilang karena ikut berjuang. Bapak jalan kaki ke arah utara sampai Banyubiru, sebagai petugas PMI. Di tengah jalan, Bapak menemukan mayat Gurka yang membusuk. Maka Bapak mengambil tengkoraknya untuk ditaruh di sekolah.  

Mungkin nanti ada cucu atau cicit yang bertanya, apa yang diperoleh Bapak sebagai pejuang. Jawabannya adalah orang berjuang jangan bertujuan mencari untung, tanda jasa, atau penghargaan. Harus benar-benar ikhlas dan tulus. Banyak pejuang yang bersikap seperti itu. Maka, jika ada orang yang mengatakan bahwa dia pernah berjuang dan mengharap penghargaan, kita harus mempertanyakan kebenarannya.