(Bagian keenam dari penuturan FX. Priyanto)

Diam-diam, Bapak dapat membangun rumah juga. Mula-mula, Bapak meminta tolong arsitek sungguhan untuk menggambar denah rumah, lengkap dengan skala ukuran dan luas tanah. Tapi, akhirnya Bapak bisa minta tolong pada Y. Sukiman,  yang disekolahkan  Bapak di STM Jurusan Bangunan.

Ada beberapa rumah yang dibangun oleh Bapak. Sebut saja rumah di Jl. Kusumanegara 129A, rumah Oom Sudiyono (Bapaknya Romo Totok, adik bungsu Ibu Prantiyo) di Miliran, lalu rumah Eyang Suhardi Sedayu, dan terakhir rumah di Jalan Perkutut.

Sebenarnya, Bapak ingin membangun rumah, lalu dijual. Lalu beli dua bidang tanah dibangun lagi dan dijual. Begitu seterusnya. Bapak ingin meniru mBah Atmo yang berkarya seperti itu, sehingga dapat memberikan warisan rumah pada putra-putranya. Meskipun tanpa besi beton, toh bangunan di Perkutut masih kokoh. Begitu juga dengan rumah Oom Sudiyono di Miliran. Hal itu berkat keseriusan Bapak menjaga campuran semen.

Gereja di Palangka Raya juga dibangun Bapak bersama para pekerja dari Flores di sana. Siapa dari keturunan Prantiyo yang akan meneruskan bakat ini?