(Bagian kelima dari penuturan FX. Priyanto)

Hasil pendidikan Belanda yang dapat ditemukan dalam diri Bapak adalah disiplin waktu.

Sebagai pemimpin, Bapak selalu keluar ruang kantor dan berkeliling, pada waktu yang tidak terduga para pegawai. Jika ada pegawai yang nampak menganggur, Bapak segera mendatangi dan bertanya, “Apa yang Anda kerjakan?” Seringkali pegawai itu gelagapan karena tidak mengira ditanya begitu oleh kepala kantor.

Bapak bertanya begitu, karena setiap pagi semua pegawai mengutarakan rencana kerja yang akan mereka lakukan hari itu. Menurut laporan, dalam sehari banyak sekali yang harus dikerjakan. Tapi kenyataannya, seringkali pegawai kebanyakan menganggur, baca koran, atau mengobrol. Kepala kantor yang lain, mungkin, akan diam saja melihat hal itu. Tapi, Bapak menggugah mereka untuk bekerja, tidak cuma menuntut janji. Bapak juga cuma menagih program yang sudah mereka bikin sendiri.

Bapak pernah difitnah saat menjadi Kepala PGSLP di Jogja tahun 1964. Oleh salah satu pegawainya yang merupakan anggota partai komunis, Bapak dilaporkan ke kejaksaan. Katanya, Bapak menggunakan uang negara untuk kepentingan pribadi. Bapak juga dituduh memungut uang dari mahasiswa PGSLP yang berbea-siswa. Padahal ada aturan yang melarang pungutan uang dari mahasiswa. Sebenarnya, si pegawai ini punya ambisi mendongkel Bapak dan menggantikannya sebagai kepala sekolah.

Karena tuduhan itu, Bapak dipanggil ke kejaksaan. Di sana, Bapak diinterogasi. Karena jawabannya tidak sesuai dengan tuduhan, Bapak dibentak-bentak. Mendengar itu, Ibu menangis, “Kasihan Bapak … kasihan Bapak …”

Untungnya, Bapak sangat disiplin. Sebagai kepala, Bapak tidak mau membawa uang sesenpun dari siswa. Semua uang dibawa oleh bendahara. Ganti si Bendahara yang dipanggil kejaksaan. Ternyata, pernyataan Bapak sesuai dengan laporan Bendahara. Uang negara digunakan untuk merenovasi bagian gedung yang rusak, mengganti genteng pecah, dan sebagainya. Uang yang dilaporkan Bapak persis sama dengan yang dibawa bendahara.

Lalu, Bapak minta agar Ketua Dewan Mahasiswa dipanggil sebagai saksi. Ternyata, ia bilang bahwa justru mahasiswalah yang minta agar ditarik uang bulanan. Tujuannya agar PGSLP dapat memberikan honorarium yang layak pada dosen, hingga para dosen serius memberi kuliah.