(Bagian keenam dari penuturan FX. Priyanto)
Menurut saya, biar orangnya disiplin, Bapak tidak pernah memaksakan kehendak. Ini bukan menurut orang atau kabar angin, melainkan saya alami sendiri. Bapak sangat menghargai pendapat dan kehendak kami, anak-anaknya.
Dik Iwik (Prastiwi), contohnya. Ketika anak-anak, ia kurus kering, tapi suka olahraga. Bahkan, Iwik ikut beladiri Perisai Sakti. Waktu SMA badan Iwik jadi kenceng dan kuat. Mas FX Sutopo pernah dibantingnya. Jadi, Bapak bilang, “Kamu besok jadi polisi, ya …” Iwik cuma tersipu malu. Waktu Iwik sekolah bukan di sekolah polisi, Bapak membiarkan saja.
Para suami atau isteri kami, anak-anak Bapak Prantiyo, adalah pilihan sendiri. Tidak ada yang dijodohkan. Waktu ada yang mau menikah dengan orang tidak seiman, Bapak Ibu tidak melarang. Beliau mengatakan, “Silakan jika memang itu pilihan hatimu. Tapi kalau ada apa-apa dengan rumah tanggamu, jangan nutuh Bapak-Ibu..” Akhirnya, ia tidak jadi menikah dengan orang yang tidak seiman.
Kecuali pada hal prinsip, Bapak tidak mau tawar menawar.

No comments yet
Comments feed for this article