(Bagian ketujuh dari penuturan FX. Priyanto)

Waktu itu tahun 1972 bulan Oktober. Aku masih menganggur sepulang dari Irian. Tapi, akhirnya ‘menemukan tempat’ di SPG Negeri 1 Yogya. Ketika orang-orang di SPG 1 tahu bahwa aku anaknya Pak Prantiyo, mereka  berceloteh dan ingat bagaimana dalam acara Syawalan, bapak pernah membawa aku, Dik Tut, Iwi,  Nono, Toto untuk menyanyi dan main orkes dalam acara itu. 

 

 

Peristiwa ‘main orkes’ itu terjadi tahun 1963. Bapak menciptakan sendiri lagu-lagunya, aransemennya, yang sesuai dengan kemampuan kami anak-anaknya.  Bapak sendiri main cello, aku main biola, Nono main biola, Toto main biola, juga dik Tut dan Iwi  main biola  dan  menyanyi.  Sederhana sajian itu, bahkan bagi para ahli musik  sajian kami itu ‘tidak ada apa-apanya’, namun bahwa yang main satu keluarga, itu bagi orang awam  sungguh dianggap istimewa. Alhamdullilah !!

 

 

Di KualaKapuas Kalimantan, Bapak juga mendirikan orkes sebab ternyata di sana banyak bapak-bapak yang mampu bermain musik, dan banyak juga yang suka menyanyi.

 

 

Beruntung aku. Suatu kali, aku yang sekolah di  de Britto libur satu bulan. Lantas, aku pulang menengok ke Kalimantan – sendiri. Oom Wiyatmo, kakak Bapak, yang menjadi Kepala ‘Bank Surakarta’ (kemudian ganti nama menjadi ‘Bank Amerta’), menitipkan aku ke kliennya di Banjarmasin, agar membantu aku mencari hotel dan mencari kendaraan untuk pulang ke Kualakapuas.

 

 

Dalam perjalanan dari Banjarmasin ke Kualakapuas,, di kapal, aku ditanya mau pulang ke mana. Lalu saya sebut nama Bapak. Pemilik kapal itu segera  menyalami  saya sambil berkata bahwa Pak Prantiyo sangat dikenal di Kualakapuas, sebab punya orkes, dan sangat dekat hubungannya dengan Bupati Cilik Riwut (yang kemudian menjadi Gubernur Kalimantan tengah). Siang harinya aku khusus diberi makan  nasi hangat dengan ikan goreng dan sayur. (Alhamdullilah !) Sementara penumpang lain harus usaha makan sendiri.  

 

 

Benar saja. Sore harinya ketika kapal merapat ke pelabuhan Kuala-kapuas, barang saya dibawakan anak buah kapal, dan saya diantar langsung  ke rumah yang letaknya di belakang kantor  gubernuran. Puji Tuhan,  karena Bapak aktif di orkes, aku jadi mendapat perlakuan istimewa ! !

 

 

Tahun 1963 Bapak mengajak kami bergabung dengan orkes ‘Exultate’ pimpinan Romo  Smiths van Waesberge. Bapak main cello,  aku, Nono dan Toto main biola. Dik Tut dan Iwi menyanyi.  Kalau Bapak punya duit, kita naik dokar untuk pentas. Kalau tidak, kami jalan kaki, sambil mengangkat cello dan  biola masing-masing. Menurut Istilah  Nono dan Toto : ‘sampai kecuuut’ ! Partitur yang paling disenangi Toto adalah yang ada ‘picicatto’-nya. Sebab saat istirahat kami mesti mendapat minum dan snack. (Artinya : habis picicatto langsung snack,  gitu lo !).

 

 

Di Wates, tahun 1953, Bapak juga menyusun buku teori musik dalam bentuk tanya jawab. Termuat juga beberapa lagu ciptaan Bapak – untuk para siswa.  Buku itu tidak dicetak secara berbanyak-banyak, hanya distensil untuk keperluan siswa  SGB Wates sendiri.