(Bagian kedelapan dari penuturan FX. Priyanto)
Kejadiannya di Solo, sebelum tahun 1953.
Dua atau tiga minggu menjelang tanggal 14 mei, hari ulangtahun Ibu, Bapak secara diam-diam melatih kami. Ada yang menyanyi bersama, ada yang berpidato, ada yang berpuisi, lalu memberi kado sama Ibu. Karena dari pagi sampai siang Bapak pergi mengajar, maka latihannya sore dan sembunyi-sembunyi. Jangan sampai Ibu tahu, agar menjadi surprise. Mestinya sih, Ibu tahu atau merasa, sebab mendadak anak-anak tidak ada suaranya, tetapi Ibu pura-pura tidak tahu.
Ketika tiba saatnya, sore hari setelah Bapak pulang kerja, setelah mandi, semua berkumpul. Yang ditunjuk menjadi MC maju untuk berpidato pendek dan sederhana. Lalu kami maju bersama, menyanyi. Ada yang maju memberi sambutan untuk ulang tahun Ibu. Pokoknya siapa di sekolah sudah diajar membaca, pasti diberi tugas membaca pidato.
Saat tiba giliran Iwi membaca pidato, dia membukanya dengan : “Ibu YTT (dibaca lugu : ye-te-te)” bukannya ‘yang tercinta’. (Kalau sekarang disingkat YTC – yang tercinta. Dulu, masih menggunakan ejaan lama : Yang Ter-Tjinta) . Maka semua yang hadir tertawa terbahak-bahak.
Apakah ada tamu-tamu lain selain penghuni rumah ? Memang, Bapak selalu mengundang tetangga dekat yang akrab barang satu-dua orang.
Sebaliknya jika Bapak berpesta-nama (karena hari kelahiran Bapak secara pasti tidak jelas, maka yang dirayakan adalah pesta nama : Santo Pantaleon — 27 Juni) Ibu yang melatih kami pidato, menyanyi bersama maupun nyanyi tunggal. Ibu (Budhe Prantiyo) ‘kan dulu seorang guru Taman Kanak-kanak, jadi masalah menyanyi dan membuat pidato lihay juga.
Jadi, sebenarnya kami, anak-anak Bapak dan Ibu Prantiyo sejak kecil sudah dibiasakan dan dilatih pidato, menyanyi, berpuisi, main tonil dll. Yang penting sih, bukan penampilan anak-anak, pesta, atau kadonya tetapi bentuk kepedulian terhadap anggota keluarga yg berulang tahun.
Sampai sekarang di keluarga kami setiap ada yang berulang tahun,kami ke gereja bersama, lalu tiup lilin sambil menyanyi-nyanyi “happy birthday” . Biar tidak pesta-pesta atau makan-makan, paling tidak berdoa bersama. Bukan pesta atau makan-makannya yang penting, melainkan kepedulian kepada yang berulang tahun.

No comments yet
Comments feed for this article