(Bagian kesepuluh dari penuturan FX. Priyanto)

Kenapa sasaran tulisan saya ini hanya Bapak Prantiyo saja? Bagaimana dengan Ibu Prantiyo? Tidak pantaskah dimunculkan? Tentu saja pantas! Bahkan, sangat pantas dimunculkan!

 

Masyarakat kita bersifat paternalis. Bapaklah yang mencari makan buat keluarga. Ibu yang mengasuh anak-anak. Oleh sebab itu jika seorang Bapak tidak berhati-hati dalam sikapnya terhadap anak-anaknya, dia justru menjadi bahan sorotan anak-anak yang ‘ merasa tidak dekat dengan dia’.

Adapun Ibu— bagi kami adalah seorang pelindung yang ramah, baik hati, mbangun miturut kepada suami. Maklum, Ibu orang jaman dulu, meski juga orang berpendidikan. Beruntunglah Bapak yang mendapat isteri Ibuku. Beruntunglah kami yang dilahirkan oleh Ibu Prantiyo yang prasaja, lebih suka diam dari pada ribut-ribut, tidak suka marah jika tidak keterlaluan, tidak suka pilih kasih,  tidak suka neka-neka .

 

Bersama ibu, kami merasa damai, tenang, tenteram. 

Adakah anak-anak yang merasa seperti kami di dekat Ibunya? Pujilah Tuhan jika demikian.