(Bagian kesembilan dari penuturan FX. Priyanto)
Kepedulian Bapak terhadap para keponakannya yang ada di desa sangatlah besar. Bapak kepengin para keponakan ini bisa melanjutkan sekolah di kota. Maka Bapak mengangkut mereka satu per satu ke Solo, agar dapat melanjutkan sekolah.
Bapak hanya seorang guru sekolah swasta, yang pendapatannya tidak menentu, tetapi semangatnya mengangkat para keponakan sangatlah tinggi. Ibu harus membantu dengan memasak makanan untuk dijual, lalu membeli beras di Wedi Klaten, dan dijual di pasar kota Solo.
Salah seorang keponakan Bapak, Mas Herman, meninggalkan bangku sekolah dan ikut berjuang bersama gerilya Tentara Pelajar melawan Belanda. Mas Herman gugur di Desa Mrican sebelah timur Solo. Sekarang makamnya ada di Makam Pahlawan Solo.
Selain peduli kepada keponakan, Bapak selalu dengan hati terbuka menerima siapapun yang kesulitan mencari tempat tinggal. Bapak meminta mereka untuk sementara bergabung dengan kami di Kulon Soos Mangkunegaran, Solo. Beberapa keluarga pernah bergabung, tidak usah saya sebut asmanya. Sebagai balasannya, kami pernah berlibur di Ungaran, di rumah keluarga yang pernah numpang-tinggal di rumah kami. Enak, kan?
Ada yang merasa begitu akrab dengan Bapak-Ibu sampai-sampai menganggap aku ini adik kandungnya sendiri. Mengharukan bukan ?

No comments yet
Comments feed for this article