Yang saya tulis ini adalah penuturan dari FX Priyanto, putra sulung Pakdhe Prantiyo, yang adalah ayah saya. Sebenarnya, Bapak sudah menitipkan kesaksian ini pada Maret 2008. Tapi karena saya jarang banget update Situs Prantiyan ini, baru sekarang saya turunkan secara berseri. Hiks! Maap ya Pak …
Berikut penuturan Bapak Priyanto :
Adalah bukan untuk mengkultuskan tokoh Bapak Pantaleon Prantiyo, kalau saya menulis ini. Juga bukan untuk membangun keluarga yang eksklusif. Namun, hal ini dibuat sekedar untuk mengenang almarhum. Siapa tahu semangat dan usaha almarhum dalam mendirikan dan membantu pengembangan gereja dapat ditiru orang lain.
“Kami Gunakan Kamu untuk Percobaan”
Adalah suatu yang mengejutkan, ketika Bapak mengatakan kalimat itu kepada saya.
Sebagai anak pertama, dan sebagai orangtua yang bertanggungjawab atas perkembangan rohani dan jasmani anaknya, Bapak punya teori. Mendidik anak itu harus mendasarkan diri pada hukum alam. Alam bersifat keras dan disiplin. Siapapun yang dikenai ulah alam itu harus benar-benar tangguh dan tegar. Kalau tidak, pasti akan hancur dari peredaran. Jadi, anak-anak yang lahir zaman dulu, tapi bertahan hidup dengan iklim dan cuaca disiplin, maka ia benar-benar anak yang patohan.
Kita harus menyadari bahwa zaman itu, pengetahuan tentang pendidikan sangat terbatas. Tidak ada media untuk penularan ilmu. Bahkan, komunikasi antar warga masih sulit. Radio hanya dipunyai orang berduit. Makanya, orangtua mencari dan memilih sendiri teori dan konsep pendidikan, berdasar warisan dari orangtua mereka. Kalau dari orangtua tidak ada warisan teori apapun, mereka akan mencari sendiri berdasarkan insting dan penjabaran orang sekitarnya.
Kata Ibu, dulu waktu masih bayi dan perutku sudah kenyang tapi nangis terus, oleh Bapak lalu dipithing. “Biar saja menangis, kalau capek kan berhenti sendiri,” ujar Bapak. Bapak mencoba menerapkan hukum alam : disiplin dan cenderung ke kekerasan. Sikap itu dipertahankan sampai aku SMP Kelas 3. Tahun 1957, seluruh keluarga pindah dari Jawa ke Kalimantan. Soalnya, Bapak harus mendirikan dan memimpin SPG di Kuala Kapuas. Seorang diri aku ditinggal untuk sekolah di SMA de Britto.
Bapak sudah berbeda sikap terhadap anak kedua (AM Tuti Indrati). Kesanku, Bapak sangat sayang padanya. Rasanya malah tidak pernah marah pada Dik Tut. Kesan ini dibenarkan juga oleh Mbak C. Hartini, puteri kakak Bapak yakni Budhe Wignyosutardjo, yang sejak kecil ikut Bapak di rumah kami, kulon Soos Mangkunegaran. Jadi Mbak Hartini tahu persis apa yang terjadi.
Rasa takut kepada Bapak atau sungkan kalau ada Bapak dirasakan juga oleh anak-anak Bapak yang lain. Jika suatu saat beberapa dari kami sdang duduk dan mengobrol dengan Ibu, lalu Bapak bergabung, maka satu-satu akan undur diri. Hal ini berlangsung sampai kami masing-masing berkeluarga.
Tahun 1976, sebelum Bapak jatuh sakit, Bapak rerasan begini.
“Kalau mungkin Pri, aku ingin hidup lebih lama lagi!”
Aku bertanya, “Kenapa, Pak?”
Bapak bilang, “Aku ingin memperbaiki sikapku kepada anak-anak. Aku ingin dekat dengan anak-anak. Tapi rasanya sudah terlambat…”
Aku merasa terharu mendengar hal itu. Ada semacam penyesalan dalam nada bicara Bapak. Aku mencoba bicara, tapi tak usah kutulis apa yang kusampaikan kepada Bapak. Mata Bapak nampak berkaca-kaca.
Bukan maksudku mencari sifat jelek Bapak. Tapi justru karena tanggungjawab Bapak untuk mendidik anak-anaknya secara disiplinlah, maka cerita di atas muncul. Kecuali itu, perlu dicatat, ada juga adik-adik yang selalu menunjukkan rasa takut kalau berhadapan dengan Bapak, sebelum Bapak kena stroke tahun 1978.