(Bagian kesepuluh dari penuturan FX. Priyanto)

Kenapa sasaran tulisan saya ini hanya Bapak Prantiyo saja? Bagaimana dengan Ibu Prantiyo? Tidak pantaskah dimunculkan? Tentu saja pantas! Bahkan, sangat pantas dimunculkan!

 

Masyarakat kita bersifat paternalis. Bapaklah yang mencari makan buat keluarga. Ibu yang mengasuh anak-anak. Oleh sebab itu jika seorang Bapak tidak berhati-hati dalam sikapnya terhadap anak-anaknya, dia justru menjadi bahan sorotan anak-anak yang ‘ merasa tidak dekat dengan dia’.

Adapun Ibu— bagi kami adalah seorang pelindung yang ramah, baik hati, mbangun miturut kepada suami. Maklum, Ibu orang jaman dulu, meski juga orang berpendidikan. Beruntunglah Bapak yang mendapat isteri Ibuku. Beruntunglah kami yang dilahirkan oleh Ibu Prantiyo yang prasaja, lebih suka diam dari pada ribut-ribut, tidak suka marah jika tidak keterlaluan, tidak suka pilih kasih,  tidak suka neka-neka .

 

Bersama ibu, kami merasa damai, tenang, tenteram. 

Adakah anak-anak yang merasa seperti kami di dekat Ibunya? Pujilah Tuhan jika demikian.         

 

Advertisements

(Bagian kesembilan dari penuturan FX. Priyanto)

Kepedulian Bapak terhadap para keponakannya yang ada di desa sangatlah besar. Bapak kepengin para keponakan ini bisa melanjutkan sekolah di kota. Maka Bapak mengangkut mereka satu per satu ke Solo, agar dapat melanjutkan sekolah.

Bapak hanya seorang guru sekolah swasta, yang pendapatannya tidak menentu, tetapi semangatnya mengangkat para keponakan sangatlah tinggi. Ibu harus membantu dengan memasak makanan untuk dijual, lalu membeli beras di Wedi Klaten, dan dijual di pasar kota Solo.

Salah seorang keponakan Bapak, Mas Herman, meninggalkan bangku sekolah dan  ikut berjuang bersama gerilya Tentara Pelajar melawan Belanda. Mas Herman gugur di Desa Mrican sebelah timur Solo. Sekarang makamnya ada di Makam Pahlawan Solo.

Selain peduli kepada keponakan, Bapak selalu dengan hati terbuka menerima siapapun yang kesulitan mencari tempat tinggal. Bapak meminta mereka untuk sementara bergabung dengan kami di Kulon Soos Mangkunegaran, Solo. Beberapa keluarga pernah bergabung, tidak usah saya sebut asmanya. Sebagai balasannya, kami pernah berlibur di Ungaran, di rumah keluarga yang pernah numpang-tinggal di rumah kami. Enak, kan?

Ada yang merasa begitu akrab dengan Bapak-Ibu sampai-sampai menganggap aku ini adik kandungnya sendiri. Mengharukan bukan ?

(Bagian kedelapan dari penuturan FX. Priyanto)

Kejadiannya di Solo, sebelum tahun 1953.

 

Dua atau tiga minggu menjelang tanggal 14 mei, hari ulangtahun Ibu, Bapak secara diam-diam melatih kami.  Ada yang menyanyi bersama,  ada yang berpidato, ada yang berpuisi,  lalu memberi kado sama Ibu. Karena dari pagi sampai siang Bapak pergi mengajar, maka latihannya sore dan sembunyi-sembunyi. Jangan sampai Ibu tahu, agar menjadi surprise. Mestinya sih, Ibu tahu atau merasa, sebab mendadak anak-anak tidak ada suaranya, tetapi Ibu pura-pura tidak tahu.

 

Ketika tiba saatnya, sore hari setelah Bapak pulang kerja, setelah mandi, semua berkumpul. Yang ditunjuk menjadi MC maju untuk berpidato pendek dan sederhana. Lalu kami maju bersama, menyanyi. Ada yang maju memberi sambutan untuk ulang tahun Ibu. Pokoknya siapa di sekolah sudah diajar membaca, pasti diberi tugas membaca pidato.  

 

Saat tiba giliran Iwi membaca pidato, dia membukanya dengan : “Ibu YTT (dibaca lugu : ye-te-te)” bukannya ‘yang tercinta’. (Kalau sekarang disingkat YTC – yang tercinta. Dulu, masih menggunakan ejaan lama : Yang Ter-Tjinta) . Maka semua yang hadir tertawa terbahak-bahak.

 

Apakah ada tamu-tamu lain selain penghuni rumah ? Memang, Bapak selalu mengundang tetangga dekat yang akrab barang satu-dua orang.

 

Sebaliknya jika Bapak berpesta-nama (karena hari kelahiran Bapak secara pasti tidak jelas, maka yang dirayakan adalah pesta nama : Santo Pantaleon — 27 Juni) Ibu yang melatih kami pidato, menyanyi bersama maupun nyanyi tunggal. Ibu (Budhe Prantiyo) ‘kan dulu seorang guru Taman Kanak-kanak, jadi masalah menyanyi dan membuat pidato lihay  juga.

 

Jadi, sebenarnya kami, anak-anak Bapak dan Ibu Prantiyo sejak kecil sudah dibiasakan dan dilatih pidato, menyanyi, berpuisi,  main tonil dll. Yang penting sih, bukan penampilan anak-anak, pesta, atau kadonya tetapi bentuk kepedulian terhadap anggota keluarga yg berulang tahun.

 

Sampai sekarang di keluarga kami setiap ada yang berulang tahun,kami ke gereja bersama, lalu tiup lilin sambil menyanyi-nyanyi “happy birthday” . Biar tidak pesta-pesta atau makan-makan, paling tidak berdoa bersama. Bukan pesta atau makan-makannya yang penting, melainkan  kepedulian kepada yang berulang tahun.

(Bagian ketujuh dari penuturan FX. Priyanto)

Waktu itu tahun 1972 bulan Oktober. Aku masih menganggur sepulang dari Irian. Tapi, akhirnya ‘menemukan tempat’ di SPG Negeri 1 Yogya. Ketika orang-orang di SPG 1 tahu bahwa aku anaknya Pak Prantiyo, mereka  berceloteh dan ingat bagaimana dalam acara Syawalan, bapak pernah membawa aku, Dik Tut, Iwi,  Nono, Toto untuk menyanyi dan main orkes dalam acara itu. 

 

 

Peristiwa ‘main orkes’ itu terjadi tahun 1963. Bapak menciptakan sendiri lagu-lagunya, aransemennya, yang sesuai dengan kemampuan kami anak-anaknya.  Bapak sendiri main cello, aku main biola, Nono main biola, Toto main biola, juga dik Tut dan Iwi  main biola  dan  menyanyi.  Sederhana sajian itu, bahkan bagi para ahli musik  sajian kami itu ‘tidak ada apa-apanya’, namun bahwa yang main satu keluarga, itu bagi orang awam  sungguh dianggap istimewa. Alhamdullilah !!

 

 

Di KualaKapuas Kalimantan, Bapak juga mendirikan orkes sebab ternyata di sana banyak bapak-bapak yang mampu bermain musik, dan banyak juga yang suka menyanyi.

 

 

Beruntung aku. Suatu kali, aku yang sekolah di  de Britto libur satu bulan. Lantas, aku pulang menengok ke Kalimantan – sendiri. Oom Wiyatmo, kakak Bapak, yang menjadi Kepala ‘Bank Surakarta’ (kemudian ganti nama menjadi ‘Bank Amerta’), menitipkan aku ke kliennya di Banjarmasin, agar membantu aku mencari hotel dan mencari kendaraan untuk pulang ke Kualakapuas.

 

 

Dalam perjalanan dari Banjarmasin ke Kualakapuas,, di kapal, aku ditanya mau pulang ke mana. Lalu saya sebut nama Bapak. Pemilik kapal itu segera  menyalami  saya sambil berkata bahwa Pak Prantiyo sangat dikenal di Kualakapuas, sebab punya orkes, dan sangat dekat hubungannya dengan Bupati Cilik Riwut (yang kemudian menjadi Gubernur Kalimantan tengah). Siang harinya aku khusus diberi makan  nasi hangat dengan ikan goreng dan sayur. (Alhamdullilah !) Sementara penumpang lain harus usaha makan sendiri.  

 

 

Benar saja. Sore harinya ketika kapal merapat ke pelabuhan Kuala-kapuas, barang saya dibawakan anak buah kapal, dan saya diantar langsung  ke rumah yang letaknya di belakang kantor  gubernuran. Puji Tuhan,  karena Bapak aktif di orkes, aku jadi mendapat perlakuan istimewa ! !

 

 

Tahun 1963 Bapak mengajak kami bergabung dengan orkes ‘Exultate’ pimpinan Romo  Smiths van Waesberge. Bapak main cello,  aku, Nono dan Toto main biola. Dik Tut dan Iwi menyanyi.  Kalau Bapak punya duit, kita naik dokar untuk pentas. Kalau tidak, kami jalan kaki, sambil mengangkat cello dan  biola masing-masing. Menurut Istilah  Nono dan Toto : ‘sampai kecuuut’ ! Partitur yang paling disenangi Toto adalah yang ada ‘picicatto’-nya. Sebab saat istirahat kami mesti mendapat minum dan snack. (Artinya : habis picicatto langsung snack,  gitu lo !).

 

 

Di Wates, tahun 1953, Bapak juga menyusun buku teori musik dalam bentuk tanya jawab. Termuat juga beberapa lagu ciptaan Bapak – untuk para siswa.  Buku itu tidak dicetak secara berbanyak-banyak, hanya distensil untuk keperluan siswa  SGB Wates sendiri.

(Bagian keenam dari penuturan FX. Priyanto)

Menurut saya, biar orangnya disiplin, Bapak tidak pernah memaksakan kehendak. Ini bukan menurut orang atau kabar angin, melainkan saya alami sendiri. Bapak sangat menghargai pendapat dan kehendak kami, anak-anaknya.

Dik Iwik (Prastiwi), contohnya. Ketika anak-anak, ia kurus kering, tapi suka olahraga. Bahkan, Iwik ikut beladiri Perisai Sakti. Waktu SMA badan Iwik jadi kenceng dan kuat. Mas FX Sutopo pernah dibantingnya. Jadi, Bapak bilang, “Kamu besok jadi polisi, ya …” Iwik cuma tersipu malu. Waktu Iwik sekolah bukan di sekolah polisi, Bapak membiarkan saja.

Para suami atau isteri kami, anak-anak Bapak Prantiyo, adalah pilihan sendiri. Tidak ada yang dijodohkan. Waktu ada yang mau menikah dengan orang tidak seiman, Bapak Ibu tidak melarang. Beliau mengatakan, “Silakan jika memang itu pilihan hatimu. Tapi kalau ada apa-apa dengan rumah tanggamu, jangan nutuh Bapak-Ibu..” Akhirnya, ia tidak jadi menikah dengan orang yang tidak seiman.

Kecuali pada hal prinsip, Bapak tidak mau tawar menawar.

(Bagian keenam dari penuturan FX. Priyanto)

Diam-diam, Bapak dapat membangun rumah juga. Mula-mula, Bapak meminta tolong arsitek sungguhan untuk menggambar denah rumah, lengkap dengan skala ukuran dan luas tanah. Tapi, akhirnya Bapak bisa minta tolong pada Y. Sukiman,  yang disekolahkan  Bapak di STM Jurusan Bangunan.

Ada beberapa rumah yang dibangun oleh Bapak. Sebut saja rumah di Jl. Kusumanegara 129A, rumah Oom Sudiyono (Bapaknya Romo Totok, adik bungsu Ibu Prantiyo) di Miliran, lalu rumah Eyang Suhardi Sedayu, dan terakhir rumah di Jalan Perkutut.

Sebenarnya, Bapak ingin membangun rumah, lalu dijual. Lalu beli dua bidang tanah dibangun lagi dan dijual. Begitu seterusnya. Bapak ingin meniru mBah Atmo yang berkarya seperti itu, sehingga dapat memberikan warisan rumah pada putra-putranya. Meskipun tanpa besi beton, toh bangunan di Perkutut masih kokoh. Begitu juga dengan rumah Oom Sudiyono di Miliran. Hal itu berkat keseriusan Bapak menjaga campuran semen.

Gereja di Palangka Raya juga dibangun Bapak bersama para pekerja dari Flores di sana. Siapa dari keturunan Prantiyo yang akan meneruskan bakat ini?

(Bagian kelima dari penuturan FX. Priyanto)

Hasil pendidikan Belanda yang dapat ditemukan dalam diri Bapak adalah disiplin waktu.

Sebagai pemimpin, Bapak selalu keluar ruang kantor dan berkeliling, pada waktu yang tidak terduga para pegawai. Jika ada pegawai yang nampak menganggur, Bapak segera mendatangi dan bertanya, “Apa yang Anda kerjakan?” Seringkali pegawai itu gelagapan karena tidak mengira ditanya begitu oleh kepala kantor.

Bapak bertanya begitu, karena setiap pagi semua pegawai mengutarakan rencana kerja yang akan mereka lakukan hari itu. Menurut laporan, dalam sehari banyak sekali yang harus dikerjakan. Tapi kenyataannya, seringkali pegawai kebanyakan menganggur, baca koran, atau mengobrol. Kepala kantor yang lain, mungkin, akan diam saja melihat hal itu. Tapi, Bapak menggugah mereka untuk bekerja, tidak cuma menuntut janji. Bapak juga cuma menagih program yang sudah mereka bikin sendiri.

Bapak pernah difitnah saat menjadi Kepala PGSLP di Jogja tahun 1964. Oleh salah satu pegawainya yang merupakan anggota partai komunis, Bapak dilaporkan ke kejaksaan. Katanya, Bapak menggunakan uang negara untuk kepentingan pribadi. Bapak juga dituduh memungut uang dari mahasiswa PGSLP yang berbea-siswa. Padahal ada aturan yang melarang pungutan uang dari mahasiswa. Sebenarnya, si pegawai ini punya ambisi mendongkel Bapak dan menggantikannya sebagai kepala sekolah.

Karena tuduhan itu, Bapak dipanggil ke kejaksaan. Di sana, Bapak diinterogasi. Karena jawabannya tidak sesuai dengan tuduhan, Bapak dibentak-bentak. Mendengar itu, Ibu menangis, “Kasihan Bapak … kasihan Bapak …”

Untungnya, Bapak sangat disiplin. Sebagai kepala, Bapak tidak mau membawa uang sesenpun dari siswa. Semua uang dibawa oleh bendahara. Ganti si Bendahara yang dipanggil kejaksaan. Ternyata, pernyataan Bapak sesuai dengan laporan Bendahara. Uang negara digunakan untuk merenovasi bagian gedung yang rusak, mengganti genteng pecah, dan sebagainya. Uang yang dilaporkan Bapak persis sama dengan yang dibawa bendahara.

Lalu, Bapak minta agar Ketua Dewan Mahasiswa dipanggil sebagai saksi. Ternyata, ia bilang bahwa justru mahasiswalah yang minta agar ditarik uang bulanan. Tujuannya agar PGSLP dapat memberikan honorarium yang layak pada dosen, hingga para dosen serius memberi kuliah.

(Bagian keempat dari penuturan FX. Priyanto)

Bapak tidak hanya berjuang untuk gereja saja, melainkan juga untuk negara.

Pada tahun 1948, semasa clash II, Belanda kembali menduduki Solo. Bahkan, siswa SMP murid Bapak, banyak yang menjadi gerilyawan melawan Belanda. Di Solo, kami tinggal di rumah Bah Bagus. Dulu namanya Jalan Tumenggungan, di Kulon Soos Mangkunegaran. Nampaknya sekarang menjadi Museum PWI. Setelah gelap, Soos ini dikawal KNIL. Tapi, jika ada gerilyawan menyerang Soos dan lewat rumah, mereka memanggil, “Pak Praaaan…”. Mendengar itu, kami jadi takut, sebab kalau ada yang tidak suka sama Bapak dan dilaporkan ke Belanda, pasti Bapak ditangkap. Alasannya berteman dengan gerilyawan, atau disebut extrimist oleh Belanda.

Suatu saat Bapak menghilang. Kata Ibu, Bapak pergi ke Wedi, rumah simbah di Setono. Tapi, ternyata kepergian ini memang dirahasiakan oleh Ibu. Soalnya, kalau ketahuan Belanda, Ibu dan kami bisa ditangkap Belanda dan ditahan sampai Bapak menyerahkan diri. Beberapa bulan kemudian, diam-diam Bapak sudah sampai lagi di rumah bersama teman-teman. Bapak bawa oleh-oleh dalam keranjang yang ditutup kain. Waktu dibuka, Ibu menjerit karena ternyata isinya adalah tengkorak manusia yang sangat besar ukurannya. Beberapa hari kemudian, Bapak mengantar tengkorak itu ke SMP Kaniusius Kusumoyudan, Solo.

Nah, ternyata Bapak menghilang karena ikut berjuang. Bapak jalan kaki ke arah utara sampai Banyubiru, sebagai petugas PMI. Di tengah jalan, Bapak menemukan mayat Gurka yang membusuk. Maka Bapak mengambil tengkoraknya untuk ditaruh di sekolah.  

Mungkin nanti ada cucu atau cicit yang bertanya, apa yang diperoleh Bapak sebagai pejuang. Jawabannya adalah orang berjuang jangan bertujuan mencari untung, tanda jasa, atau penghargaan. Harus benar-benar ikhlas dan tulus. Banyak pejuang yang bersikap seperti itu. Maka, jika ada orang yang mengatakan bahwa dia pernah berjuang dan mengharap penghargaan, kita harus mempertanyakan kebenarannya.

(Bagian ketiga dari penuturan FX. Priyanto)

Tahun 1953, Bapak sekeluarga pindah dari Solo ke Jogja. Soalnya, Bapak harus mengajar di SGB Negeri Dongkelan dan Jetis. Kami tinggal di Minggiran, Jogja. Itu adalah rumah kuno kagungannya mBah Mertopengarso.

Waktu itu Gereja Pugeran masih menggunakan booglamp yang nyalanya merah dan tidak begitu terang. Bapak rerasan dengan para pimpinan gereja. Lalu setiap ada misa, saya dan Dik Tut bertugas mengedarkan besek untuk kolekte neonisasi gereja. Kami dibantu putrinya Pak Giarto. Usaha ini juga dibantu dengan mengadakan penjualan kupon sumbangan berhadiah. Akhirnya neonisasi gereja berhasil.

Kebetulan, setelah itu kami pindah ke Wates, Kulon Progo. Sebab, Bapak diangkat menjadi Kepala SGB Negeri Wates. Di Wates, Bapak mengusahakan neonisasi Gereja Wates. Latihan koor selalu diadakan di rumah kami. Romo Brotowidjaya yang rumahnya di Pengasih, katanya, juga sering ikut latihan di rumah kami, di wetan pasar.

Tahun 1957, Bapak, Ibu, adik-adik, Yu Mah dan Kiyah pindah ke Kuala Kapuas, Kalimantan. Soalnya, Bapak harus membuka sekolah SGA di sana. Waktu itu, di Kuala Kapuas baru ada kapel. Jika romo dari Banjarmasin tidak datang, kami sekeluarga diikuti tiga atau empat umat Katolik di Kuala Kapuas berdoa bersama dipimpin Bapak. Ibadat ini dikenal dengan nama ibadat sabda.

Tahun 1960, Bapak pindah ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Bapak menjabat sebagai Kepala Kanwil Depdikbud yang pertama di sana. Palangkaraya samasekali belum punya gereja, meski di sana banyak pekerja bangunan dari Flores yang mayoritas beragama Katolik. Maka, Bapak dibantu para pekerja lantas membangun gereja. Lahannya adalah tanah hadiah dari Gubernur Tjilik Riwut. Tanah itu masih berupa hutan rimba belantara yang harus dibabat dan dibersihkan. Untung kayu tidak perlu dibeli, tinggal ditebang saja. Konon, katedral yang sekarang didirikan di atas gereja lama tersebut, namun ada beberapa tiang yang tidak diganti sebagai kenangan. Puji Tuhan!

Di Demangan, Bapak berusaha membantu menghidupkan pertemuan pendalaman iman yang diberi nama Purnaman. Lalu, bersama Bapak HJ Sumarto, menghidupkan pendalaman iman seminggu sekali di rumah Perkutut.

(Bagian kedua dari penuturan FX. Priyanto)

Meski Bapak terkesan disiplin dan cenderung keras, tapi sebenarnya beliau suka humor. Ini diakui oleh mereka yang mengenal Bapak.

Kalau Bapak, Pakdhe Hardjosubroto (Kakak Ibu yang tertua), Oom Sukaryo (Adik Ibu yang mendapat titel KRT Tondokusuma dari Keraton Jogjakarta), juga Oom Sudiyono (Adik bungsu Ibu) kumpul bersama, bergurau habis mereka empat saudara itu. Ada saja bahan yang diguraukan.

Bapak cerita pengalaman semasa sekolah di Muntilan. Waktu itu, asrama masih dipimpin pastor Belanda. Bagi orang Jawa sederhana, semua orang Belanda punya senjata api. Suatu malam, asrama Bapak gaduh karena ada yang teriak “Maling!”. Seluruh penghuni geger dan turun tempat tidur. Mereka lari keluar tanpa tahu harus berbuat apa.

Dalam keributan itu, Bapak bertemu dengan sosok yang belum dikenalnya di dekat gerbang. Spontan Bapak teriak, “Jangan bergerak! Tak tembak kowe!” Sosok itu jatuh berjongkok dan gemetar. “Jangan ditembak, Ndoro … saya bukan maling..”. Saat menengok ke kanan kiri, ternyata tak ada seorang pun teman Bapak di situ. Bapak pun ganti ketakutan dan berteriak, “Hoooi .. malingnya ada di sini…” Teman-teman Bapak segera berdatangan. Bapak merasa lega lalu berkata pada teman-temannya. “Itu malingnya! Awasi dia .. Bawa pistol ini..,” kata Bapak sambil mengulurkan tangannya pada si teman. Eh, temannya heran dan bertanya, “Pistol apa? Mana?” Bapak jadi kecipuhan menghadapi teman yang tak bisa diajak pura-pura. Untung romo pimpinan asrama datang dan segera membawa maling tadi ke polisi.

Cerita lainnya. Kalau belanja ke toko milik orang Tionghoa, Bapak selalu menawar dengan bahasa China. Kalau pas ikut Bapak, kami terpaksa menjauh supaya tidak keceplosan tertawa. Biasanya penjaga atau pemilik toko bisa dikibuli Bapak dan memberi diskon. Kunjungan Bapak ke toko selalu ditutup dengan kata-kata, “Kamsya ya Koh!”
Dasar wajah Bapak memang mirip-mirip China dan itu menurun pada Wiwik (M. Prastiwi) dan Iyas (MM. Priyastuti). Sampai kini, kalau mereka berdua ke Pasar Demangan, para pedagang selalu menyapa, “Pados nopo Cik?”

Waktu masih mengajar di SPG 1, saya punya teman bernama Bapak Supartoyo. Beliau adalah murid Bapak di SMK Kusumayudan, Solo. Pak Partoyo ini bercerita bahwa yang diingat dari Bapak adalah waktu itu Bapak jadi petugas penarik uang sekolah. Kebanyakan murid ini adalah bekas pejuang yang belum tentu punya duit. Jika masuk kelas, Bapak selalu senyam senyum, lalu bicara, “Siapa yang kepingin guru-gurunya masih mengajar di sini, silakan pasok sama saya. Apa ada yang sudah bawa duit?” Lalu dijawab sama-sama, “Beluuuuum..” Sambil nyengir, Bapak keluar kelas.

Zama dulu, sering ada penjual sapu atau nyiru yang mampir ke rumah, menawarkan dagangan. Sambil menunggu Ibu mengambil uang, Bapak sering mengadakan wawancara. Lalu tercipta dialog begini :
Bapak  : Rumahnya di mana Pak?
Pedagang : Dari Desa Tunut, Romo (Bapak sering dipanggil Romo, sebagai penghormatan)
Bapak  : Sebelah mana perempatan yang ada gardunya itu? (Hampir semua desa ada perempatan dengan pos ronda, kan?)
Pedagang : Ke selatan sedikit, Romo ..
Bapak : Dengan Pak Wangsa yang punya gerobak itu? (Waktu itu, di tiap desa pasti ada yang punya gerobak sapi)
Pedagang : Bukan Pak Wangsa Romo, tapi Pak Warsa
Bapak : Oh, saya dengar yang punya Pak Wangsa ..
Pedagang : Dulu memang, tapi sudah dijual…
Kami yang mendengar dialog itu selalu menjauh biar tidak tertawa, sehingga membuka kedok Bapak. Sebenarnya Bapak cuma bergurau, tapi ditanggapi serius oleh si pedagang. Memang Bapak bisa menciptakan wajah yang serius, meskipun sedang bergurau.

Bapak juga suka membuat suasana jadi ceria. Misalnya waktu latihan koor Gregorius Gereja Baciro, yang jika berlatih selalu berpindah dari rumah ke rumah. Dalam latihan, biasanya mereka berlatih not-nya. Setelah menguasai not baru woorden (Bahasa Belanda, artinya kata-kata atau syair). Meski bukan pimpinan, pelatih, atau dirigen, Bapak selalu berkata, “Yo kita belajar notnya dulu, nanti kalau sudah bisa baru woordennya..” Ketika tiba saat istirahat dan keluar nyamikan berupa gorengan, Bapak menyeletuk, “Wah .. ini woordennya keluar..” Geeeerrr .. Semua ketawa. Sejak itu, konsumsi dalam latihan koor Gregorius disebut woorden.